Ramai dipadati orang-orang duduk dan berlalu-lalang. Lorong fakultas ekonomi saat jeda antara jam kuliah pertama dan kedua. Kursi-kursi dari batu dengan gaya pahatan zaman kerajaan yang simpel, mengisi ruang kosong yang dibuat oleh tiang lorong yang satu dengan lainnya. Tidak ada kursi kosong, semuanya telah digunakan untuk berkerumun. Berdiri dan duduk, mahasiswa menggunakan tempat itu untuk berkumpul, bicara masalah kuliah, organisasi, kegiatan setelah kuliah, hoby mereka yang sama, pacar, dan lainnya. Dana baru sampai kampus, setelah melewati jalan didepan pintu ruang dosen dan kependidikan, dia menuruni 3 anak tangga dan belok kiri menuju lorong tersebut. Mengingatkan kita pada lagu THE SMITH “This Charming Man”, Dana berjalan dengan supel dan langkah kaki setengah melompat, dia menyapa kiri kanan sisi lorong. Lelaki yang berbadan tegap, atletis, asli jakarta. Tingginya rata-rata tinggi orang seangkatannya, kulitnya sawo matang, bersih, mukanya supel dengan hidung agak mancung dan tidak terlalu besar, cocok dengan rambut pendeknya, matanya sudah lama memiliki persediaan magnet, alisnya lumayan tebal seperti sapu rumah yang masih utuh, rambutnya hitam sedikit kepirangan yang bisa terlihat menyala ketika berada di tengah terik matahri, dan terakhir, bibir yang sedikit lebih merah dibanding teman-temannya. Di deretan kursi itu ada adik kelasnya satu jurusan, teman seangkatan, juga kakak kelas. Di kursi kedua sebelah kiri ada gerombolan gadis adik kelas yang terbagi atas dua kubu pakaian, kemeja dengan bawahan celana jeans dan T-shirt berkerah dengan jeans. “pagi girls” dana menyapa wajah-wajah yang dari tadi mencuri-curi pandang kepadanya secara amatir. Mereka merasa mendapat izin untuk menyapa setelah sahutan dana. Rasa malu untuk menegur dana didepan teman-teman yang tadi menyelimuti mereka pun sontak meleleh. “pagi kak,” serentak saja dana mendapat jawaban dari mereka, hanya ada satu orang yang lebih kecil mengeluarkan suaranya karena karakternya yang sangat pemalu. Betapapun, masih ada orang yang memang sedang fokus dengan buku tulisnya sambil memutar-mutar alat tulis. Dana merenggut pulpen dari tangan orang itu, “serius sekali kamu ini.” pria itu menatap kakinya dan kembali tegak mengungkap senyumnya. “haha, aku bercanda, kamu sedang menunggu kelas?” dana menyodorkan pulpen ke pemiliknya. “iya, aku ada kuliah jam kedua.”
Dana menutup pembicaraan setelah mengembalikan pulpen tersebut. Dia berjalan menuju teras di depan BMT fakultas. Teras itu juga berupa sebuah lorong, hanya lebih lebar dari lorong yang tadi, ada pagar di sisi luarnya karena setelah itu merupakan tanah cekung yang belum dipelihara dengan baik, rumput liar tumbuh terpisah-pisah, itupun dalam jumlah sedikit, masih banyak tanah kosong yang akan indah seandainya ditanami dengan teratur. Dana menyandarkan kedua tangannya ke pagar tersebut, melihat gedung di seberang tanah tadi, belasan mahasiswa sedang menunggu di depan kelas mereka. Dari belakang ada tangan yang menepuk pundak dana. Belum sempat dana menyelesaikan kagetnya, anak itu langsung menyergap bertanya, “assalaamu’alaikum, apa kabar bang?.” mahfud mengadahkan kedua telapaknya, “tenang bang, tenang, mahfud ini mahfud”. “Ah kamu fud, membuat abang kaget saja”. Mahfud terbahak pendek, kepalanya mendongak ke atas, lalu kembali menatap dana. “bang, bagaimana nih kelanjutannya kongres partai jembatani minggu kemarin?.” mahfud bertanya ringan sambil mengunyah kacang kulit rasa. Dana menghentikan gerakan mulut mahfud dengan cengkraman tangan kanan yang ragu menekan, mahfud sedikit termanyun malas. “fud, ngomong-ngomong, kamu sudah tau kabar mas Randhy yang ingin mencalonkan juga?”, “kalo itu sih sudah dengar mas, partai Solid juga sudah hampir bulat suaranya untuk menyalonkan mas randhy.” dana mengambil satu butir kacang kulit mahfud, membukanya lalu melemparkannya ke mulut seperti polisi menjebloskan pencuri yang tertangkap tangan ke penjara. Dana sudah mengira hal ini, kegeraman randhy tidak biasanya menggunung dalam waktu singkat kalau hanya menyoal kedekatannya dengan lisa. Dulu untuk membuat randhy panas mengingatkan kita pada pembakaran batubara, tapi sekarang, bagai korek api gesek, menyala dengan cepat. Dana berbalik membiarkan punggungnya melihat pemandangan tanah kosong, dia menyilangkan kedua tangannya dan meletakkannya pasrah di depan dada, lalu bersungut-sungut karena menemukan kecocokan temuan barunya dari mahfud dan perasaan yang dialami selama ini, bagai sherlock holmes yang menemukan bukti baru dalam membantu penyelidikannya. “Makanya bang, abang perlu dapat update informasi tentang saingan abang dong, biar abang...” “oke fud, thanks, abang mau jalan dulu nih, ada yang ingin abang kerjakan.” dana menahan bibir mahfud dengan dua jarinya karena dianggap sebagai gangguan untuk melihat sekar, ratu angkatan yang elegan dan pintar, itu pula sebabnya dia belum punya pacar sampai sekarang, karena banyak pria yang merasa tidak cukup pintar, berwibawa, dan tersohor untuk menjadi pacar si bunga hijau angkatan 05. Dana sedikit berlari, meninggalkan temannya menghela nafas, mahfud merasakan rasa malasnya yang kembali muncul ke permukaan ketika melihat dana yang sering berkelakuan seperti itu.
“Sekar, mau ke mana kamu?” dana menyusul ke tempat parkir motor gadis itu dengan mengendalikan nafasnya yang hampir terengah-engah. Sekar mendorong rambutnya ke belakang telinga kanan, “ke kantin.” alis matanya meloncat, penasaran menunggu apa lagi yang ingin dikatakan dana. “oh... kantin, pilihan yang bagus.” “pilihan bagus?, justru kamu yang melakukan pilihan yang bagus.”, “aku?.” Sepuluh jari dana mengerucut ke dadanya bagai daun putri malu yang disentuh. “yah, kamu, coba pikir, pergi ke kantin adalah pilihan yang bagus?, waw, kamu pasti sudah mempersiapkannya sejak semalam.” Sekar sedikit membungkuk dengan memegang buku didadanya, dana sudah merasakan aroma khawatir dari percakapannya ini. “oke, aku kena, begini saja, bagaimana kalau kita makan malam di... super sambal? how’s that?” dana merampas niat sekar melanjutkan jawaban. “ makan malam?, kamu langsung mengajakku?” dia terpaksa sedikit menahan nafas untuk mengeluarkan motornya akibat terlalu berdekatan dengan dua motor disamping. “memangnya apa yang membuatmu ingin mengajakku?.” Dana menahan motor sekar yang baru saja mau keluar. “karena aku tidak punya alasan untuk tidak mengajakmu.” Sepertinya kita menemukan pemenang di sini, sekar yang mulai terkikik melihat gelagat temannya ini antara terpesona dan tertawa, ternyata dia menemukan tepat di depan matanya, pria yang menggunakan kata-kata untuk mempengaruhi perasaan wanita yang biasanya hanya dia temukan di film seperti “Casino Royal”, “A Good Year” dan “Letters to Juliet”. Sangat empuk, hangat, dan menuntut rasa penasaran dari seorang wanita.
“oh iya, aku dengar kamu dicalonkan partai jembatani ya?” sekar menggunakan waktunya yang berharga untuk bertanya.
“ooh, kau tahu tentang itu?” informasi tentang kekuasaaan cepat tersebar di fakultas ini.” Kata dana. “ya, begitu hasil kongres terakhir.”
“emm, jadi... aku akan makan malam dengan calon presiden?” sekar sedikit meledek.
“ya, kau benar.” Dana mengarahkan telunjuknya kepada sekar. “dan gratis.”
“waw, aku hampir lupa akan hal itu.” “memangnya, apa yang membuatmu tertarik untuk menjadi seorang presiden?” pertanyaan itu terdengar lebih dalam dengan motif mengungkap.
“oke, menurutku kenikmatan untuk memperbaiki lingkungan, bisa lingungan fakultas kita, universitas, negara, bahkan dunia.”
“kenikmatan perbaikan.” Sekar bergumam canda sambil mencerna jawaban dana.
Bahu dana terangkat setelah melepas tangannya dari motor sekar. Begitulah. Kira-kira seperti itu yang ada dipikirannya.
“apa kamu punya pesaing?”
“tentu.” Dana menjawab dengan sigap layaknya tentara yang diperintah atasan. “partai solid hampir membulatkan suara untuk mencalonkan randhy.” Dana mundur menyingkir saat sekar mengeluarkan motor dari padatnya parkiran.
Sedikit bantuan dari dana, sekar berhasil mengeluarkan motor maticnya dari perangkap. Gadis itu langsung menyamankan dudukannya dan merengkuh helm putih berbunga yang tergantung di kaca spion sebelah kanan. “apa ini sungguhan?” sekar melotot kaget ke arah dana sehingga menundanya memakai helm di kepala yang berambut hitam sampai ke bahu.
Dana menggelengkan kepalanya sekali. “ya, itu kenyataannya.” Tercium bau prihatin, tapi puas dan penuh harapan pada ritme lainnya. Dia yakin situasi ini dapat menambah keinginan sekar untuk berbincang dengannya. Mengingat, mungkin semua teman teman seangkatan tahu bahwa sudah sejak satu tahun yang lalu, setiap kali dana bertemu randhy, pemandangan menjadi menarik.
“kalau begitu, nampaknya kau akan lebih berhati-hati ketika berbicara dengan lisa.” “aku pergi dulu, sampai jumpa jam delapan malam lusa di depan gang kos-an ku.” Sekar beranjak kejam dengan merampas hak menjawab dana.
“sepakat.” Dana mengangkat jempol seraya berkata tanpa menuntut sekar untuk mendengarnya.
Dana tertawa. “sekar.” Dia mulai bicara. “lisa.” Ada energi kinetik yang menghangatkan tubuhnya. Dia masih melanjutkan tawanya dan mengambil langkan untuk jalan pulang. Sedikit mendaki kemudian lintasan pun kembali datar. Morfolgi kampusnya lebih mirip rel roller coaster.
“Kemana kau libatkan dirimu.” Dana berbisik pada dirinya. Dia sedang membeiarkan pikiran mengambil alih diskusi pribadinya. “ya.. ya. Tepat sekali.” Dia mengangguk menyetujui pendapatnya sendiri. Alisnya melesat naik ke rambutnya. Ada dalam pikirannya satu hal yang perlu dilakukan untuk memenangkan pemilihan presiden. Sambil menatap langit dengan bingung dana mengusap mukanya yang lesu mengantuk. Kata-kata mahfud tadi berlalu-lalang di otaknya. “benar juga, aku tidak boleh ketinggalan info tentang randhy.” Dia semakin dekat dengan kosnya, jam kedua yang kosong digunakannya untuk membaca dan merebahkan diri di kos yang sejuk. Kali ini dia tidak berharap ada seseorang seperti mahfud yang tiba-tiba menganggu istirahatnya.