Entri Populer

Senin, 21 Maret 2011

kota hasrat : bagian 1


Ramai dipadati orang-orang duduk dan berlalu-lalang. Lorong fakultas ekonomi saat jeda antara jam kuliah pertama dan kedua. Kursi-kursi dari batu dengan gaya pahatan zaman kerajaan yang simpel, mengisi ruang kosong yang dibuat oleh tiang lorong yang satu dengan lainnya. Tidak ada kursi kosong, semuanya telah digunakan untuk berkerumun. Berdiri dan duduk, mahasiswa menggunakan tempat itu untuk berkumpul, bicara masalah kuliah, organisasi, kegiatan setelah kuliah, hoby mereka yang sama, pacar, dan lainnya. Dana baru sampai kampus, setelah melewati jalan didepan pintu ruang dosen dan kependidikan, dia menuruni 3 anak tangga dan belok kiri menuju lorong tersebut. Mengingatkan kita pada lagu THE SMITH “This Charming Man”, Dana berjalan dengan supel dan langkah kaki setengah melompat, dia menyapa kiri kanan sisi lorong.  Lelaki yang berbadan tegap, atletis, asli jakarta. Tingginya rata-rata tinggi orang seangkatannya, kulitnya sawo matang, bersih, mukanya supel dengan hidung agak mancung dan tidak terlalu besar, cocok dengan rambut pendeknya, matanya sudah lama memiliki persediaan magnet, alisnya lumayan tebal seperti sapu rumah yang masih utuh, rambutnya hitam sedikit kepirangan yang bisa terlihat menyala ketika berada di tengah terik matahri, dan terakhir, bibir yang sedikit lebih merah dibanding teman-temannya. Di deretan kursi itu ada adik kelasnya satu jurusan, teman seangkatan, juga kakak kelas. Di kursi kedua sebelah kiri ada gerombolan gadis adik kelas yang terbagi atas dua kubu pakaian, kemeja dengan bawahan celana jeans dan T-shirt berkerah dengan jeans. “pagi girls” dana menyapa wajah-wajah yang dari tadi mencuri-curi pandang kepadanya secara amatir. Mereka merasa mendapat izin untuk menyapa setelah sahutan dana. Rasa malu untuk menegur dana didepan teman-teman yang tadi menyelimuti mereka pun sontak meleleh. “pagi kak,” serentak saja dana mendapat jawaban dari mereka, hanya ada satu orang yang lebih kecil mengeluarkan suaranya karena karakternya yang sangat pemalu. Betapapun, masih ada orang yang memang sedang fokus dengan buku tulisnya sambil memutar-mutar alat tulis. Dana merenggut pulpen dari tangan orang itu, “serius sekali kamu ini.” pria itu menatap kakinya dan kembali tegak mengungkap senyumnya. “haha, aku bercanda, kamu sedang menunggu kelas?” dana menyodorkan pulpen ke pemiliknya. “iya, aku ada kuliah jam kedua.”
Dana menutup pembicaraan setelah mengembalikan pulpen tersebut. Dia berjalan menuju teras di depan BMT fakultas. Teras itu juga berupa sebuah lorong, hanya lebih lebar dari lorong yang tadi, ada pagar di sisi luarnya karena setelah itu merupakan tanah cekung yang belum dipelihara dengan baik, rumput liar tumbuh terpisah-pisah, itupun dalam jumlah sedikit, masih banyak tanah kosong  yang akan indah seandainya ditanami dengan teratur. Dana menyandarkan kedua tangannya ke pagar tersebut, melihat gedung di seberang tanah tadi, belasan mahasiswa sedang menunggu di depan kelas mereka. Dari belakang ada tangan yang menepuk pundak dana. Belum sempat dana menyelesaikan kagetnya, anak itu langsung menyergap bertanya, “assalaamu’alaikum, apa kabar bang?.” mahfud mengadahkan kedua telapaknya, “tenang bang, tenang, mahfud ini mahfud”. “Ah kamu fud, membuat abang kaget saja”. Mahfud terbahak pendek, kepalanya mendongak ke atas, lalu kembali menatap dana. “bang, bagaimana nih kelanjutannya kongres partai jembatani minggu kemarin?.”  mahfud bertanya ringan sambil mengunyah kacang kulit rasa. Dana menghentikan gerakan mulut mahfud dengan cengkraman tangan kanan yang ragu menekan, mahfud sedikit termanyun malas. “fud, ngomong-ngomong, kamu sudah tau kabar mas Randhy yang ingin mencalonkan juga?”, “kalo itu sih sudah dengar mas, partai Solid juga sudah hampir bulat suaranya untuk menyalonkan mas randhy.” dana mengambil satu butir kacang kulit mahfud, membukanya lalu melemparkannya ke mulut seperti polisi menjebloskan pencuri yang tertangkap tangan ke penjara. Dana sudah mengira hal ini, kegeraman randhy tidak biasanya menggunung dalam waktu singkat kalau hanya menyoal kedekatannya dengan lisa. Dulu untuk membuat randhy panas mengingatkan kita pada pembakaran batubara, tapi sekarang, bagai korek api gesek, menyala dengan cepat. Dana berbalik membiarkan punggungnya melihat pemandangan tanah kosong, dia menyilangkan kedua tangannya dan meletakkannya pasrah di depan dada, lalu bersungut-sungut karena menemukan kecocokan temuan barunya dari mahfud dan perasaan yang dialami selama ini, bagai sherlock holmes yang menemukan bukti baru dalam membantu penyelidikannya. “Makanya bang, abang perlu dapat update informasi tentang saingan abang dong, biar abang...” “oke fud, thanks, abang mau jalan dulu nih, ada yang ingin abang kerjakan.” dana menahan bibir mahfud dengan dua jarinya karena dianggap sebagai gangguan untuk melihat sekar, ratu angkatan yang elegan dan pintar, itu pula sebabnya dia belum punya pacar sampai sekarang, karena banyak pria yang merasa tidak cukup pintar, berwibawa, dan tersohor untuk menjadi pacar si bunga hijau angkatan 05. Dana sedikit berlari, meninggalkan temannya menghela nafas, mahfud merasakan rasa malasnya yang kembali muncul ke permukaan ketika melihat dana yang sering berkelakuan seperti itu.
“Sekar, mau ke mana kamu?” dana menyusul ke tempat parkir motor gadis itu dengan mengendalikan nafasnya yang hampir terengah-engah. Sekar mendorong rambutnya ke belakang telinga kanan, “ke kantin.” alis matanya meloncat, penasaran menunggu apa lagi yang ingin dikatakan dana. “oh... kantin, pilihan yang bagus.” “pilihan bagus?, justru kamu yang melakukan pilihan yang bagus.”,  “aku?.” Sepuluh jari dana mengerucut ke dadanya bagai daun putri malu yang disentuh. “yah, kamu, coba pikir, pergi ke kantin adalah pilihan yang bagus?, waw, kamu pasti sudah mempersiapkannya sejak semalam.” Sekar sedikit membungkuk dengan memegang buku didadanya, dana sudah merasakan aroma khawatir dari percakapannya ini. “oke, aku kena, begini saja, bagaimana kalau kita makan malam di... super sambal?  how’s that?” dana merampas niat sekar melanjutkan jawaban. “ makan malam?, kamu langsung mengajakku?” dia terpaksa sedikit menahan nafas untuk mengeluarkan motornya akibat terlalu berdekatan dengan dua motor disamping. “memangnya apa yang membuatmu ingin mengajakku?.” Dana menahan motor sekar yang baru saja mau keluar. “karena aku tidak punya alasan untuk tidak mengajakmu.” Sepertinya kita menemukan pemenang di sini, sekar yang mulai terkikik melihat gelagat temannya ini antara terpesona dan tertawa, ternyata dia menemukan tepat di depan matanya, pria yang menggunakan kata-kata untuk mempengaruhi perasaan wanita yang biasanya hanya dia temukan di film seperti “Casino Royal”, “A Good Year” dan “Letters to Juliet”. Sangat empuk, hangat, dan menuntut rasa penasaran dari seorang wanita.
“oh iya, aku dengar kamu dicalonkan partai jembatani ya?” sekar menggunakan waktunya yang berharga untuk bertanya.
“ooh, kau tahu tentang itu?” informasi tentang kekuasaaan cepat tersebar di fakultas ini.” Kata dana. “ya, begitu hasil kongres terakhir.”
“emm, jadi... aku akan makan malam dengan calon presiden?” sekar sedikit meledek.
“ya, kau benar.” Dana mengarahkan telunjuknya kepada sekar. “dan gratis.”
“waw, aku hampir lupa akan hal itu.” “memangnya, apa yang membuatmu tertarik untuk menjadi seorang presiden?”  pertanyaan itu terdengar lebih dalam dengan motif mengungkap.
“oke, menurutku kenikmatan untuk memperbaiki lingkungan, bisa lingungan fakultas kita, universitas, negara, bahkan dunia.”
“kenikmatan perbaikan.” Sekar bergumam canda sambil mencerna jawaban dana.
Bahu dana terangkat setelah melepas tangannya dari motor sekar. Begitulah. Kira-kira seperti itu yang ada dipikirannya.
“apa kamu punya pesaing?”
“tentu.” Dana menjawab dengan sigap layaknya tentara yang diperintah atasan. “partai solid hampir membulatkan suara untuk mencalonkan randhy.” Dana mundur menyingkir saat sekar mengeluarkan motor dari padatnya parkiran.
Sedikit bantuan dari dana, sekar berhasil mengeluarkan motor maticnya dari perangkap. Gadis itu langsung menyamankan dudukannya dan merengkuh helm putih berbunga yang tergantung di kaca spion sebelah kanan. “apa ini sungguhan?” sekar melotot kaget ke arah dana sehingga menundanya memakai helm di kepala yang berambut hitam sampai ke bahu.
Dana menggelengkan kepalanya sekali. “ya, itu kenyataannya.” Tercium bau prihatin, tapi puas dan penuh harapan pada ritme lainnya. Dia yakin situasi ini dapat menambah keinginan sekar untuk berbincang dengannya. Mengingat, mungkin semua teman teman seangkatan tahu bahwa sudah sejak satu tahun yang lalu, setiap kali dana bertemu randhy, pemandangan menjadi menarik.
“kalau begitu, nampaknya kau akan lebih berhati-hati ketika berbicara dengan lisa.” “aku pergi dulu, sampai jumpa jam delapan malam lusa di depan gang kos-an ku.” Sekar beranjak kejam dengan merampas hak menjawab dana.
“sepakat.” Dana mengangkat jempol seraya berkata tanpa menuntut sekar untuk mendengarnya.
Dana tertawa. “sekar.” Dia mulai bicara. “lisa.” Ada energi kinetik yang menghangatkan tubuhnya. Dia masih melanjutkan tawanya dan mengambil langkan untuk jalan pulang. Sedikit mendaki kemudian lintasan pun kembali datar. Morfolgi kampusnya lebih mirip rel roller coaster.
“Kemana kau libatkan dirimu.” Dana berbisik pada dirinya. Dia sedang membeiarkan pikiran mengambil alih diskusi pribadinya. “ya.. ya. Tepat sekali.” Dia mengangguk menyetujui pendapatnya sendiri. Alisnya melesat naik ke rambutnya. Ada dalam pikirannya satu hal yang perlu dilakukan untuk memenangkan pemilihan presiden. Sambil menatap langit dengan bingung dana mengusap mukanya yang lesu mengantuk. Kata-kata mahfud tadi berlalu-lalang di otaknya. “benar juga, aku tidak boleh ketinggalan info tentang randhy.” Dia semakin dekat dengan kosnya,  jam kedua yang kosong digunakannya untuk membaca dan merebahkan diri di kos yang sejuk. Kali ini dia tidak berharap ada seseorang seperti mahfud yang tiba-tiba menganggu istirahatnya.

ke jogja dengan si rabe : 1 - dilema di busway

hari rabu, 16 maret 2011 gw naek ojek bang aha dari prepedan sampe sumur bor, kira-kira setengah perjalanan tu langit di atas awannya dah makin mendung, gua si nyantai aja keujanan dikit bodo amat dah, namanya juga begundal ya ga. lagi enak-enak eh brader gw yang ngendaraain motor ini ngomong-ngomong sendiri "beelum turun" gitu diulang-ulang mulu, gw kata kenapa ni orang, emangnya bakal ngaruh apa dengan dia ngebacot kaya gitu sama hujan yang bakal turun...
akhirnya turun juga tuh hujan, padahal dah tinggal dikit lagi nyampenya...  akhirnya gw berteduh di depan toko alat-alat listrik gitu, ya kabel, lampu, dan lainnya lah... maen jambrengnya aja bang aha langsung gelar mantel hujan nutupin badannya.. sreset... setelah siap gw naekin lagi tu motor yang dah jadi alat penghasilan si abang, langsung aja reng reng reng, nyampe gw di deket tangga jembatan yang menuju ke halte busway sumur bor, setelah bayar ojek, gw langsung meluncur ke halte.
di lantai atas jembatan, ada yang jual otak2 atau somay gitu, kepengen si gw, tapi ga beli. haha. males kali ya. oke, lanjut ke cerita berikutnya,, dari halte sumur bor langsung gw naek busway dan turun di halte rawa buaya, -kaya orang bingung aja. padahal gw lagi nunggu is rabe di situ.
cukup lama gw nunggu mungkin sekitar setengah jam, ada sih yang duduk di sebelah gw tapi gw ga tegoran,,, haha..
akhirnya si rabe dateng juga, oke dah, setelah ini banyak kejadian lucu.. mudah-mudahan elu-elu pada bisa fresh karenanya.. hihi

di busway ke harmoni

setelah ketemu si rabe, kita bedua jalan. tu anak penampilannya kaya panji si petualang, pake tas punggung, celana pendek, bersepatu skate. oke dah, mulai petualangan pertama.
kita bedua naek busway, tentunya transit harmoni sulu baru entar kita mau naek jurusan pulogadung.. baru masuk bus, gw ngeliat ada penjelasan tentang kondisi janin di beberapa tahap. dua minggu pertama, satu bulan pertama, dua bulan dan seterusnya dah, terus gw mikir, ngapain juga ya jelasin tahapan janin dengan detail kaya gini di busway? lu pada bisa nebak ga?
akhirnya ketauna juga tuh maksud si penulis, ternyata di bawahnya ada tulisan "dahulukan wanita hamil"
nah ini ni orang dibalik batunya.. secara ngapain lu jelas-jelasin tahapan perkembangan janin di busway?

ga lama ada penumpang naek dari salah satu halte pemberhentian... set set, pada berebut masuk, ya gw ngerti lah kehidupan busway, ada yang kedorong-dorong ampir jatoh, ada yang nunggu mobil yang kosong biar dapet duduk, tapi karena dah terlanjur ngantri di depan akhirnya hampir-hampir jatoh die kelobang antara bus dengan halte..

akhirnya masuk juga pejuang-pejuang itu (gw namain pejuang karena emang butuh pengorbanan bro buat perbutan masuk). langsung aja orang-orang pada masuk nyari tempat duduk, gw yang emang memegang prinsip dahulukan ibu hamil, dahulukan lansia, dahulukan orang sakit, udah siap seandainya gw mempersilahkan orang-orang dengan kualifikasi tersebut duduk di tempat gw..
ga lama juga, ad cewe nih berdiri di depan gw. satu tangannya mencengkram besi pegangan, satu lagi memegang handphone, ngomongnya tegas dan berkarakter banget (wauh wauh) kira-kira gini nih "emang dikira ngrusin impor gampang apa?" "dia mah ga bisa ngurusin gituan"
gw yang udah kepikiran wah ga enak ni kalo ga masih bangku, orang dia berdiri pas banget depan gw 
di sini gw mulai dilema, kasih duduk apa enggak ya? ga dikasih, tapi dia cewe, mau dikasih tapi dia performanya seger dan bersemangat gitu kaya cewe kokoh.
akhirnya gw putuskan aja untuk tidak ngasih ni bangku yang mulai PW gw tempatin, abis itu gw mulai dah tampang bodo amat gw, pede aja ga ngasih, gw celingak celinguk aja tuh sementara tu mba-mba bekoar-koar pake hapenya depan gw. maen cuek aj gw, bodo amat dah nih cewe berdiri gelantungan, habis bertenaga banget, kan gw jadi ga kasian sama dia.
oke dah, beberapa waktu gw lewatin dengan mendengar celotehan cewek tangguh yang bergelantungan. akhirnya busway ge berhenti di salah satu halte -mungkin halte grogol kali ya-, kali ini gw liat bener-bener dah... maen serobbot aja tu yang belakang, ada ibu-ibu hampir jatuh tuh, tapi kalo menurut gw sih, dia juga yang salah, kalo nunggu bus yang kosong, ya jangan di depan dong, orang kan banyak juga yang mau naek bus walau ga dapet tempat duduk. langkah penumpang masuk udah ga karuan dah tuh, gerombolan masuk bebarengan semua, tapi gw cuek aja, sampe akhirnya bus pun jalan dan penumpang menemukan tempat standby nya. saat-saat inilah gw ngerasa dilema yang lebih nyesek daripada mikirin ngasih bangku gw ke wanita penelpon tadi. lagi-lagi ada ibu-ibu persis berdiri di depan gw. kali ini gw yakin bahwa ibu ini layak gw kasih tempat duduk. gw udah mau ngasi tuh bangku yang gw pertahankan dari cewe perkasa tadi. tapi keadaan kali ini berbeda, kalo tadi pas cewe perkasa itu di depan gw, tempat berdiri masih luas, jadi dengan ruang lega seperti itu akan gampang buat berdiri memegang satu tas, -gw dah make ransel jadi tas gw yang satu lagi gw pegang-, dan ngasi bangku ke ibu-ibu. sedangkan sekarang rame banget, padet, sudah buat berdiri dan ngasi tempat duduk, dan karena sempit itu sulit buat gw yang make ransel dan berdiri megang tas yang satunya, masa iya gw minta ibu yang gw kasih bangku itu megangin tas gw??? engga enak lah. yaudah akhirnya gw ga jadi deh ngasi tempat ke ibu itu. tapi gw ga enak juga nih, pas gw lagi bimbang gitu, si rabe bisik-bisik ke gw ngedeketin palanya ke gw, "lu belaga tidur aja bego", wah gw pake juga nih idenya, langsung palanya si rabe bebalik lagi dan gw mulai belaga tidur. terus gw mikir, kalo gw langsung tidur kayan keliatan banget dah, masa orang baru sepuluh detik dah langsung tidur, kan ga enak kalo ketauan ama itu ibu dan penumpang lainnya. akhirnya ga pake pikir panjang gw pake taktik tahapan tidur. jadi gw pura-pura merem-melek gitu, merem bentar, abis itu melak bentar liat-liat kaya orang ngantuk, udah berapa kali merem-melek baru dah gw idu beneran, gw liat si rabe dah gaya tidur pala nunduk, tapi lu pada tau kan, aslinya si rabe mah kaga tidur. bener aje, si rabe ternyata secara rutin melihat-lihat sudah sampe mana ni busway "berjanin" ini. nengok sekali, "wah masih di roxy" kata dia dalam hati, nengok lagi, "wah masih belum turu juga dari fly over." dan selidik punya selidik, ternyata si rabe dah memantau ni kelakuan penumpang cowo laennya yang tidur, enggak salah emang, common sense gw ma dia memang seragam sama cowo sebrang bangku kita., tu cowo juga melincak-melincuk ngelirik posisi busway di tengah tidur palsunya itu. yah memang kenyataannya begitu ya para pembaca, mungkin banyak orang yang tidur di busway -apalagi dengan tiba-tiba- itu sednag menjalankan aksinya, kita juga ga bisa langsung menyalahkan, karena bisa jadi orang tersebut mempunyai alasan tersendiri. hihi.(bisa aja nih gw, hoho).
oke berlanjut, bus itu berjalan atau lebih tepatnya merangkak di sepanjang fly over roxy. gw yang tadinya masih belum tidur, malah bablasa beneran tidur, jadi pas si rabe bangunin gw, bener-bener terlelap gw, ya lumayan lah mengurangi saat-saat merasa bersalah daripada pura-pura tidur terus sambil menyadari ada ibu-ibu yang enggak gw kasih duduk. "be, bangun... bangun... udah nyampe,, si rabe bangunin gw, mata gw berat banget dah, sambil ngantuk gw bersiap untuk turun, karena di harmoni banyak yang turun, yaudah gw ama si rabe tunggu yang lain jalan dulu aja karena sudah kalo gw berdiri sekarang, orang yang dari ujung kan dah pada berdiri ngantri buat turun. setelah lega, gw sama si rabe pun berdiri dan ikut mengantri untuk turun, pas gw liat ke halte harmoni, hah, perasaan gw ke halte busway deh, bukan ke tempat beli tiket justin bieber. gile bener, ngantri nya ampe ke ubun-ubun, ngeliat rame gitu, langsung kan gw kontak si rabe, "be, kita ke mana nih?."
"ke pojok sono be." si rabe ngasi tau sambil nunjuk ke pjok kiri, maksudnya ada lah pintu untuk bus jurusan pulogadung.
dengan kompak gw berangkat bersama si rabe ke medan perjuangan, karena kepadatan orang di halte busway harmoni lebih seperti manasik haji daripada kerumunan pasar di pagi hari. mulailah gw memasuki kancah peperangan itu, awalnya gw maju bersama teman-teman lain yang juga berjuang menuju ke arah yang sama, jadi gw dan rabe hanya bertubrukan dengan orang-orang yang searah, tapi kemudian, ini ni yang bikin gw agak gimana gitu, bisa dibilang ni orang-orang lebay bisa, dibilang konyol bisa juga. bayangin aja deh 3 kejadian ini.

yang pertama

baru berapa meter kita gw dan rabe ikut program manasik haji ini, kita melihat kejanggalan, ya sebenernya ga janggal juga sih, mungkin emang ini ga mau menyia-nyiakan momen sore itu. di dalem halte rame banget , bener-bener dah, rasanya lima belas menit cuma cukup buat jalan dari ujung ke ujung di harmoni saat itu. seperti yang gw bilang tadi, bar berapa meter kita jalan, gw liat ada handphone kamera yang menjulang tinggi, ya padahal tu orang bisa jadi susah buat ngegerakin badannya, tapi kayana sosok yang satu ini adalah cucu pejuang 45. lu tau ndiri kan pejuang 45 kaya apa, pake senjata dibawah penjajah tapi tetep aja maju. diangkat dah handphone itu, pas gw liat, "asem, ni orang mau jeprat-jepret di mari", dalam batin gw juga mau ngelakuin itu.. haha. terus versi si rabe, katanya dia merasakan flash light gitu, waduh, dah kaya anang dan ashanty yang dateng ke nikahan KD-Raul aja maen di jepret. bukan karpet merah yang kita injek, tapi seng putih yang dibawahnyaada kali harmoni, salah-salah bisa jebol nih halte, kalo soal itu, gw ngeri dah ngebayanginnya. tapi kata si rabe mah gampang, "kalo gw jatoh gara-gara ni halte jebol, gw bakal narik-narik orang biar jatoh bareng". cetusnya sante - ya lu tau lah si rabe (radabego).

yang kedua 

seperti yang gw bilang tadi "medan perjuangan", hal itu pun terbukti dengan adanya kesamaan ciri tumpukan manusia di halte harmoni dengan medan perjuangan, terorganisir dan berjuang dengan semangat. gimana engga. sekitar dua menit setelah fotographer halte itu ngagetin gw dengan kelakuan profesionalnya yang siap foto di mana aja, gw, rabe dan temen-temen seperjuangan (orang-orang searah pintu pulogadung) berjalan dengan padatnya, depan, samping, belakang dah diisi semua sama orang-orang. awalnya lumayan berjalan lancar, walaupun macet tapi setidaknya barisan gw engga bertubrukan dengan barisan yang berlawanan arah. tapi ternyata keadaan itu ga berlangsung lama, pasukan dari lawan arah pun mulai kita hadapin, jadi mereka menyisir sisi kiri dan kanan gw dan temen-temen. ya, kita pun bergesekan, jadi sesekali gw terdorong ke belakang karena kegesek barisan lawan arah dari samping. jreg... jreg.. gitu tuh gw tubrukan ama orang, ada yang ngotot ada yang biasa aja, nah yang ini nih gw ampe shock, jadi dia mengibas-ngibas tangannya, untuk membuka jalan, dan gw pun muka cengo aja ngeliatin, dalam pikiran gw ni orang mau jadi mc di kerja bakti kali ya... hampir aja gw emosi pengen mukul rambo yang dah tua..

yang ketiga

nah yang ini bikin ngakak banget, gimana enggak, gw liat di samping kiri gw dari arah berlawanan itu berjalan iringan gitu dan kompak banget tau ga, mereka tuh kaya dah koordinasi dan punya leader di depannya, ada waktu itu orang ngomong ke orang yang di depannya, "udah lanjuta, tangan lu maenin." widih kata gw, ni niat amat kaya baris-berbaris paskibra aja ada komandonya. yang lucu lagi, ada satu baris yang tadinya maju dengan gagah berani, tiba-tiba berhenti, terus karena tu barisan udah sepakat berjuang ampe pintu jurusan tujuan, otomatis yang dibelakang nanya, "napa lu berhenti?." "di depan ada ibu gendong bayi, pelan-pelan ye."
terang aja si rabe salut, "salut-salut gw, ni orang biar kata kebelet masih sayang ama bayi."

itu cerita busway ye, ntar gw mau nambahin lagi cerita di kereta, ngeliat orang ngorok, dibangunin bencong. haha. next time gw mau ke bali ah.